foto: Ilustrasi HarianTerbit.id HarianTerbit.id, BOGOR – Meskipun mencatatkan pertumbuhan aset hingga dua digit, pangsa pasar (market share) perbankan syariah di Indonesia dinilai masih stagnan dan belum mampu melompat lebih tinggi untuk mengungguli laju perbankan konvensional. Temuan ini diungkapkan dalam riset terbaru dari Program Studi Akuntansi Syariah Universitas Islam Tazkia Bogor yang menganalisis performa industri keuangan syariah nasional hingga pertengahan tahun 2026.
Kajian ilmiah bertajuk “Analisis Aset dan Pangsa Pasar Bank Syariah: Tumbuh tapi Stagnan” yang disusun oleh Adibah Aulia Pulungan memaparkan data bahwa per Juni 2026, total aset perbankan syariah nasional sebenarnya melonjak impresif sebesar 11,1% menjadi Rp1.075,18 triliun dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp967,33 triliun. Namun, pertumbuhan volume aset yang besar ini ternyata diikuti oleh penurunan tipis pangsa pasar dari 7,41% menjadi 7,36% terhadap seluruh perbankan nasional.
“Masalah utama bank syariah bukan karena berhenti tumbuh, melainkan karena perbankan konvensional bergerak jauh lebih cepat,” ujar Adibah Aulia Pulungan dalam hasil analisisnya. Sebagai pembanding, total aset perbankan nasional tumbuh hingga 11,9% dengan nilai mencapai Rp14.600,89 triliun pada periode yang sama. Selisih pertumbuhan itulah yang membuat kue pangsa pasar perbankan syariah justru bergeser turun tipis.
Riset ini sekaligus mematahkan paradigma lama yang selalu menunjuk rendahnya faktor literasi masyarakat sebagai satu-satunya penyebab utama terhambatnya laju bank syariah. Merujuk pada Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Agustus 2026, indeks literasi keuangan syariah berada pada angka 43,07% dengan tingkat inklusi (penggunaan produk) yang masih sangat rendah, yaitu sebesar 13,24%.
“Ada jurang (gap) yang sangat lebar sebesar 80 poin jika membandingkan tingkat inklusi keuangan syariah dengan konvensional yang sudah menyentuh 93,53%. Data ini mengonfirmasi pola bahwa banyak masyarakat yang sebenarnya sudah cukup paham tentang prinsip syariah, tetapi mereka belum memutuskan untuk menggunakan produknya secara riil,” tambahnya.
Berdasarkan kajian tersebut, tertahannya daya saing bank syariah dipengaruhi secara kompleks oleh berbagai elemen internal dan eksternal, bukan sekadar masalah pemahaman nasabah. Faktor-faktor seperti kesiapan infrastruktur teknologi, kualitas pelayanan SDM, inovasi produk, hingga strategi transformasi digital memegang peranan yang jauh lebih krusial di era pasca-pandemi ini. Selain itu, pergeseran struktur industri juga terlihat jelas di mana aset Bank Umum Syariah (BUS) melonjak ke angka Rp817,56 triliun, sementara Unit Usaha Syariah (UUS) menyusut menjadi Rp231,51 triliun seiring konsolidasi industri.
Sebagai rekomendasi strategis, riset Universitas Islam Tazkia ini menawarkan tiga langkah taktis untuk mendorong akselerasi bank syariah di Indonesia:
1. Memperkuat Skala dan Transformasi Holistik: Membenahi kualitas produk, kapasitas SDM, dan teknologi secara bersamaan agar memiliki daya dampak sistemik ke perekonomian.
2. Mengubah Literasi Menjadi Inklusi: Mengalihkan program edukasi konvensional ke penyediaan fasilitas mencoba produk secara langsung lewat sistem digitalisasi yang praktis dan mudah diakses dari mana saja.
3. Mengevaluasi Kinerja Berbasis Pangsa Pasar: Mengubah indikator pelaporan internal dengan lebih jujur membandingkan pertumbuhan syariah terhadap industri nasional, bukan sekadar berpuas diri dengan pertumbuhan aset internal dua digit.
Melalui strategi tersebut, industri perbankan syariah diharapkan tidak lagi sekadar bertanya seberapa besar mereka telah tumbuh, melainkan seberapa cepat mereka mampu berlari memimpin pasar perbankan nasional secara inklusif.
Penulis : Adiba Aulia P
Editor : Redaksi

