31 PKBM dan SKB Negeri Lebak Menempuh Jejak Digital TKA Kesetaraan Paket C 2026

waktu baca 3 menit
Sabtu, 31 Okt 2026 20:07 8 Redaksi

    Harianterbit.id – LEBAK – Pagi itu, ruang-ruang belajar di berbagai penjuru Kabupaten Lebak tidak hanya dipenuhi buku dan wajah-wajah warga belajar. Di hadapan layar komputer dan perangkat digital, sebuah ikhtiar bersama sedang dimulai.

    Sebanyak 31 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan satu SKB Negeri Lebak secara serentak menyelenggarakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Kesetaraan Paket C Tahun 2026.

    Pelaksanaan TKA digelar dalam empat hari, yakni pada 31 Oktober, 1 November, 7 November, dan 8 November 2026. Setiap lembaga menyesuaikan pelaksanaan dengan kebutuhan sesi masing-masing, namun semuanya berjalan dalam satu semangat: membuktikan bahwa pendidikan kesetaraan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

    Ketua Forum Komunikasi PKBM Kabupaten Lebak, Afuh Saepudin, mengatakan sebanyak 31 PKBM dan satu SKB Negeri ambil bagian dalam pelaksanaan TKA tahun ini. Di balik angka tersebut, terdapat sekitar 972 warga belajar Paket C yang mengikuti ujian dari berbagai wilayah di Kabupaten Lebak.

    “Ini bukan sekadar pelaksanaan ujian. Ada perjalanan panjang warga belajar yang sedang diukur, ada harapan untuk melanjutkan pendidikan, dan ada cita-cita yang ingin memperoleh pengakuan,” ujar Afuh, Sabtu (31/10/2026).

    Menurutnya, pelaksanaan TKA pada pendidikan nonformal memiliki sejumlah tujuan penting. Mulai dari menjamin penyetaraan hasil belajar, memperoleh informasi capaian akademik yang terstandar, hingga menjadi bahan pertimbangan untuk melanjutkan pendidikan.

    Lebih dari itu, TKA juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kredibilitas lulusan serta memetakan mutu dan mengevaluasi proses pembelajaran di pendidikan kesetaraan.

    Yang menjadi catatan tersendiri, seluruh PKBM dan SKB di Kabupaten Lebak menyelenggarakan TKA tersebut secara online dan mandiri.

    Di tengah perkembangan teknologi yang terus melaju, lembaga-lembaga pendidikan nonformal di Lebak kini membuktikan bahwa mereka tidak ingin hanya menjadi penonton.

    “Ini merupakan capaian yang luar biasa dan patut diapresiasi. Seluruh PKBM dan SKB di Kabupaten Lebak mampu melaksanakan TKA secara mandiri di lembaganya masing-masing dengan sistem online,” kata Afuh.

    Namun, di balik layar yang menyala dan jaringan yang menghubungkan ruang-ruang belajar itu, ada satu hal yang tak kalah penting: listrik yang tetap terjaga.

    Afuh berharap PT PLN melalui seluruh Unit Layanan Pelanggan (ULP) yang ada di Kabupaten Lebak dapat ikut mendukung kelancaran pelaksanaan TKA. Sebab, ujian yang berlangsung secara daring dengan batas waktu yang telah ditentukan membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.

    Jangan sampai, kata dia, perjalanan warga belajar dalam menempuh TKA harus terhenti hanya karena layar mendadak gelap atau jaringan kehilangan daya.

    Pelaksanaan TKA Kesetaraan Paket C Tahun 2026, lanjut Afuh, juga menjadi penanda bahwa PKBM dan SKB memiliki peran yang semakin luas dalam dunia pendidikan.

    Selama ini, lembaga pendidikan nonformal tersebut dikenal sebagai salah satu jalan bagi anak-anak yang tidak bersekolah akibat berbagai persoalan sosial, ekonomi maupun budaya. Kini, mereka juga menunjukkan kemampuan untuk menyelenggarakan sistem evaluasi akademik secara mandiri dan berbasis digital, sebagaimana yang dilakukan pada jalur pendidikan formal.

    “Ini adalah wujud nyata bahwa PKBM dan SKB bukan hanya menjadi tonggak penuntasan anak tidak sekolah, tetapi juga mampu menyelenggarakan TKA secara online dan mandiri,” pungkasnya.

    Sementara itu, Kasi Kurikulum PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Eti Suhartini, menilai pelaksanaan TKA Kesetaraan Paket C yang diikuti satu SPNF SKB dan 31 PKBM merupakan langkah nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan kesetaraan.

    Menurutnya, pendidikan kesetaraan terus diarahkan agar memiliki kualitas dan pengakuan yang setara, sehingga warga belajar memiliki kesempatan yang sama untuk melangkah ke jenjang berikutnya.

    “TKA ini memastikan warga belajar memiliki kompetensi yang terukur serta diakui secara resmi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun memasuki dunia kerja,” tandas Eti.

    Di berbagai sudut Kabupaten Lebak, layar-layar itu pun kembali menyala. Di balik setiap soal yang dijawab, tersimpan sebuah keyakinan sederhana: bahwa jalan menuju masa depan tidak selalu dimulai dari ruang kelas yang sama, tetapi setiap orang tetap berhak tiba pada tujuan yang setara.

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional