Ketika Kendang Penca Menggema di Tanah Lebak, Warisan Leluhur Kembali Bernapas

waktu baca 4 menit
Senin, 31 Agu 2026 21:17 5 Redaksi

    Harianterbit.id

    Lebak – Suara kendang menggema dari sudut Haurgajrug, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. Iramanya mengalun perlahan, menyatu dengan embusan angin pegunungan yang seolah membawa pulang kisah-kisah lama dari para karuhun. Di pelataran tempat para pesilat berdiri tegap, setiap langkah bukan sekadar gerakan, melainkan bahasa yang diwariskan turun-temurun—bahasa tentang kehormatan, keberanian, dan cinta kepada tanah kelahiran.

    Selama dua hari, 29–30 Agustus 2026, bumi Lebak menjadi saksi bagaimana warisan budaya itu kembali menemukan denyutnya melalui Festival Pasanggiri Pencak Silat Silat Sunda Institute (SSI) 2026. Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin hanya sebuah perlombaan. Namun, bagi para pesilat, guru, dan para pelestari budaya, pasanggiri adalah ruang tempat sejarah dan masa depan saling berpelukan.

    Di tengah arena, para pesilat dari tujuh kecamatan di Kabupaten Lebak tampil bergantian. Mata mereka tajam, langkahnya mantap, sementara tangan dan kaki menari mengikuti irama kendang. Di balik setiap jurus tersimpan filosofi hidup; mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah menundukkan lawan, melainkan menaklukkan diri sendiri.

    Tak sedikit orang tua yang menyaksikan dengan mata berbinar. Mereka melihat anak-anaknya tidak hanya belajar membela diri, tetapi juga mewarisi adab, tata krama, dan nilai-nilai luhur yang selama berabad-abad menjadi denyut kehidupan masyarakat Sunda.

    Festival itu mendapat perhatian langsung dari pendiri Silat Sunda Institute, H. Roedy Wiranatakusumah, S.H., M.H., M.B.A. Baginya, pencak silat bukan sekadar olahraga ataupun seni pertunjukan. Ia adalah identitas bangsa yang harus terus dirawat, terutama setelah The Tradition of Pencak Silat diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia milik Indonesia.

    “Pengakuan dunia adalah sebuah kehormatan, tetapi kehormatan itu akan kehilangan makna apabila generasi penerus berhenti menjaganya,” menjadi semangat yang mengiringi terselenggaranya festival tersebut melalui pembinaan generasi muda dan para pelestari budaya.

    Objektivitas pertandingan dijaga oleh jajaran dewan juri dan juri yang telah memiliki pengalaman hingga tingkat internasional. Dipimpin Abah Yudistira sebagai Dewan Juri, bersama Abah H. Surya Galung, Kang Ade Mulyana, Kang Jajang Nurdin, Kang Ikhsan Mukhlis, Ibu Karlina Nur Azizah, dan Kang Ismar Supriyadi, mereka memastikan setiap penilaian tidak hanya mengukur teknik, tetapi juga menghormati nilai sportivitas dan etika yang menjadi ruh pencak silat.

    Di sela kegiatan, Abah Cepi Kusumah, Ketua Silat Sunda Institute DPW Garut, mengajak seluruh hadirin memandang Lebak bukan sekadar bentangan wilayah, melainkan tanah yang menyimpan jejak panjang peradaban Nusantara.

    Dengan suara yang tenang, ia mengucapkan petuah leluhur:

    “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke. Aya baheula aya ayeuna, eweh baheula eweuh ayeuna.”

    Ungkapan itu menjadi pengingat bahwa masa kini tidak pernah lahir tanpa masa lalu. Peradaban yang kokoh selalu berdiri di atas akar yang dijaga.

    Abah Cepi kemudian melanjutkan dengan kalimat yang menggugah hati para hadirin.

    “SSI berdiri di Banten. Kami lain semah. Kami anak anu balik deui ka imah, guna ngarumat budaya lemah.”

    Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang. Sebab bagi keluarga besar Silat Sunda Institute, Banten bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan rumah yang harus dirawat bersama.

    Semangat itulah yang kemudian dirumuskan dalam ikrar bersama:

    “Jaga Diri, Bela Nagri, Nyaah Leumah Cai, Banten Nga Budaya, Banten Ngabuana.”

    Bagi Dewan Juri Abah Yudistira, festival ini lebih dari sekadar kompetisi. Ia menyebut Pasanggiri Pencak Silat SSI sebagai upaya “merajut kembali dangiang yang terbentang, tempat warisan leluhur bertemu dengan denyut kekinian.”

    Menurutnya, setiap tabuhan kendang penca yang berpadu dengan Wiraga, Wirahma, dan Wirasa menjadi bukti bahwa identitas budaya Lebak dan Banten masih hidup, tumbuh, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

    Dua hari pelaksanaan festival berlalu tanpa kehilangan semangatnya. Arena dipenuhi sorak dukungan, senyum para pelatih, haru para orang tua, dan kerja keras panitia yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan lancar.

    Saat matahari mulai condong ke ufuk barat pada penghujung acara, para juara memang naik ke podium. Namun sesungguhnya, kemenangan terbesar hari itu bukanlah medali ataupun piala.

    Yang menang adalah budaya.

    Yang menang adalah semangat menjaga warisan.

    Yang menang adalah keyakinan bahwa selama masih ada anak-anak yang belajar hormat kepada guru, mencintai tanah leluhur, dan menjaga pencak silat sebagai jalan hidup, maka nyala budaya Nusantara tidak akan pernah padam.

    Di tanah Lebak, di antara gema kendang dan jejak langkah para pesilat, warisan itu kembali menemukan rumahnya. Dan di sanalah sejarah terus ditulis—bukan dengan tinta, melainkan dengan gerak, adab, dan jiwa yang tetap setia menjaga marwah budaya Indonesia.

    Oleh : Firdaus Lengkara

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional