x

Polda PBD Gelar Rekontruksi Penyerangan Dua Nakes di Tambrauw, 17 Adegan Diperagakan

waktu baca 3 menit
Rabu, 15 Apr 2026 20:00 19 Redaksi

    Harianterbit.id | Sorong – Penyidik Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Papua Barat Daya menggelar rekonstruksi penyerangan dua tenaga kesehatan di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Rabu (15/4/2026).

    Rekontruksi yang berlangsung di lapangan Polda Papua Barat Daya tersebut dihadiri pengacara tersangka dari LBH Gerimis, Kasi Pidum Kejati Sorong serta istri dari kedua korban.

    Pelaksana tugas Kabid Humas Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny Hengkelare mengatakan, rekonstruksi yang berlangsung pukul 15.00 hingga 17.30 WIT tersebut menampilkan 17 adegan.

    Dalam rekonstruksi terungkap bahwa peristiwa penyerangan bermula pada tanggal 14 Maret 2026, ketika sejumlah tersangka berkumpul di sebuah pondok di dalam hutan dekat Kampung Sumbekas. Pertemuan itu kemudian berlanjut setelah salah satu tersangka menyampaikan ajakan untuk berkumpul kembali keesokan harinya di dalam hutan aekitar Kampung Jukbi.

    Keesokan harinya, lanjut Kompol Jenny, para tersangka bergerak menuju titik kumpul dengan membawa parang dan senjata api rakitan. Setibanya di lokasi, mereka bergabung dengan kelompok lain hingga jumlahnya semakin banyak.

    “Para pelaku melakukan pertemuan tertutup yang dipimpin oleh pimpinan kelompok, yang kemudian merancang aksi pembunuhan secara terstruktur,” bebernya.

    Jenny menambahkan, dalam rapat tersebut, disusun strategi penyerangan dengan membagi para pelaku ke dalam beberapa posisi atau plotingan di sepanjang jalan sekitar Kampung Banfot. Mereka kemudian menunggu target yang melintas sesuai rencana yang telah disusun sebelumnya.

    Ia pun mengungkapkan, pada 16 Maret 2026, sekitar pukul 12.30 WIT, tiga sepeda motor yang ditumpangi para korban dan saksi melintas di lokasi yang telah dipersiapkan. Para pelaku yang telah bersiaga langsung beraksi dengan melepaskan tembakan senjata api rakitan yang memicu kepanikan para korban.

    Situasi semakin mencekam ketika para pelaku keluar dari persembunyian dan menghadang korban menggunakan senjata tajam. Upaya korban untuk melarikan diri gagal setelah kendaraan mereka terjatuh akibat pengereman mendadak dan tabrakan beruntun.

    Dalam kondisi terjatuh dan tidak berdaya, para korban kemudian menjadi sasaran kekerasan brutal secara bersama-sama oleh para pelaku.

    “Rekonstruksi memperlihatkan bagaimana aksi kekerasan dilakukan secara berulang hingga menyebabkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian,” kata Jenny.

    Jenny menyebut bahwa para pelaku diduga merekayasa situasi dengan membuat dokumentasi video di tempat kejadian untuk membangun narasi tertentu terkait peristiwa tersebut.

    “Setelah aksi seluruh pelaku melarikan diri kembali ke dalam hutan sejauh kurang lebih satu kilometer dari lokasi kejadian,” ujarnya.

    Jenny mengatakan, rekonstruksi turut dihadiri sejumlah pejabat kepolisian dari Polda Papua Barat Daya, jaksa penuntut umum, penyidik gabungan serta keluarga korban. Kehadiran keluarga korban menambah suasana haru sekaligus tegang selama jalannya rekonstruksi.

    “Pihak kepolisian menyatakan bahwa rekonstruksi ini menjadi bagian penting dalam melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke tahap penuntutan,” ungkapnya.

    Lebih lanjut mantan PJU Polres Sorong Kota itu mengatakan, dari seluruh adegan yang diperagakan, penyidik menilai telah ditemukan kesesuaian antara keterangan para tersangka dengan fakta di lapangan.

    “Kasus ini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum karena menunjukkan adanya perencanaan matang dalam aksi kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa,” ujarnya.

    Polda Papua Barat Daya menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini secara profesional dan transparan demi memberikan keadilan bagi para korban dan keluarganya. (Jun)

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional
    x