Anggota DPRD PBD Sebut Kota Sorong Darurat Begal, Minta Polisi dan Pemkot Bertindak Tegas

waktu baca 3 menit
Jumat, 15 Mei 2026 14:06 7 Redaksi

    Harianterbit.id | Kota Sorong – Jumlah kasus pencurian dengan kekerasan atau yang biasa jambret atau begal marak terjadi di Kota Sorong, Jum’at (15/5/2026). Kerugian yang diakibatkan oleh pelaku jambret atau begal pun tidak sedikit bahkan setiap harinya Pengadilan Negeri Sorong menyidangkan kasus tersebut. Mirisnya, kebanyakan dari pelaku tindak pidana jambret atau begal ini anak-anak di bawah umur.

    Maraknya tindak pidana jambret atau begal ini membuat banyak pihak angkat bicara, salah satunya anggota DPRD Papua Barat Daya dati Fraksi Otsus, George Robby Wanma. Menurut dia pemerintah Kota Sorong dan semua pihak harus memberi perhatian serius terhadap kasus pencurian yang disertai kekerasan.

    Saat ini lanjut Robby Wanma, masyarakat kita merasa tidak aman ketika akan keluar rumah. Karena banyaknya kasus begal ini tidak heran jika Kota Sorong bisa dikatakan Darurat Begal.

    “Kami mengapresiasi apa yang dilakukan pihak kepolisian mulai dati jajaran polda hingga polsek. Tapi upaya untuk menekan angka kasus begal belum sepenuhnya di dukung oleh masyarakat,” kata sosok yang akrab disapa kaka Robby Wanma ini.

    Ia menyebut sebagian masyarakat bahkan para orang tua yang ada di Kota Sorong tahu bahwa banyak anak-anak muda yang kerapkali mabuk-mabukan lalu melakukan tindak pidana begal dan sebagainya.

    Ketersediaan personel Polresta Sorong Kota yang hanya 500 orang terbagi di tiga wilayah polsek tidaklah cukup menangani angka kriminalitas yang kerap meresahkan ini. Makanya, polisi perlu mendapatkan tambahan biaya operasional dalam melaksanakan tugas menciptakan kota ini aman.

    “Pemerintah Kota Sorong diminta membantu polisi menciptakan kamtibmas yang kondusif, jangan sampai dinilai oleh masyarakat tidak ada,” kata Robby Wanma.

    Anggota DPRD PBD dari Dapeng Raja Ampat ini meminta kepada pemkot Sorong untuk lebih memerhatikan lampu jalan disejumlah wilayah rawan. Karena menurut Robby Wanma, kondisi jalan yang gelap membuat pelaku-pelaku begal bebas berkeliaran.

    Ia mencontohkan di depan toko Silibaya dan sekitarnya, pasar Remu dan Rufei Star kondisi disitu cukup gelap tak heran jika beberapa peristiwa begal terjadi.

    “Jika kondisi jalan gelap, sangat gampang pengendara yang melintas menjadi korban pencurian dengan kekerasan,” ujar Robby Wanma.

    Lebih lanjut Robby Wanma meminta kepada polda Papua Barat Daya dan Polresta Sorong Kota untuk tidak hanya melakukan patroli di jam-jam rawan tetapi juga razia kendaraan yang tidak dilengkapi surat-surat.

    Robby Wanma juga menyoroti proses hukum terhadap kasus curanmor. Baik pelaku maupun penadahnya harus diproses hukum.

    Ia menyebut kebanyakan dari penadah motor curian belum sepenuhnya diproses hukum. Inilah yang kemudian semakin banyak pelaku begal yang rata-rata anak dibawah umur tergiur dengan harga penjualan curanmor. Selain audah tahu tempat pencurian, harga yang ditawarkan pun 2 hingga 3 juta rupiah.

    “Banyak dari penadah motor ini mengirim hasil curian ke Maybrat, Sorong Selatan dan Raja Ampat,” ujarnya.

    Kepolisian dan pemerintah Kota Sorong harus bersinergi sehingga operasi malam atau razia dapat dilakukan secara rutin guna menekan angka kriminalitas begal dan curanmor.

    Polisi harus tegas menindak pihak-pihak yang yang keliaran malam menggunakan kendaraan yang tidak dilengkapi surat-surat.

    “Harus ditanya mau kemana tengah malam, dan kebanyakan di dalam jok motor terdapat peralatan yang biasanya dipakai mencuri,” kata Robby Wanma.

    Ia mengaku bahwa DPRD PBD telah menerima banyak laporan dari masyarakat terkait kasus begal dan curanmor. Makanya, kami berharap polisi lebih tegas dalam melihat kasus begal maupun curanmor.

    “Kenapa tidak polisi bersama-sama dengan pihak TNI rutin melakukan razia kendaraan untuk menciptakan kota ini tetap aman dari begal maupun curanmor,” ujar Robby Wanma.

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional