Keterangan foto: Ibon Tarmon, mahasiswa asal Desa Tumalehu Barat, Kecamatan Kepulauan Manipa, Maluku, Sabtu (3/1/2026) Harianterbit.id Pandeglang – Merantau tidak sekadar soal berpindah tempat, tetapi juga proses pembentukan diri. Hal itu dirasakan Ibon Tarmon, mahasiswa asal Desa Tumalehu Barat, Kecamatan Kepulauan Manipa, Maluku, yang sejak 2021 menetap di Pandeglang untuk menempuh pendidikan di STKIP Syekh Manshur.
“Keputusan merantau ke Pandeglang bukan hanya soal melanjutkan kuliah, tetapi juga awal dari proses panjang mengenal diri, lingkungan, dan realitas sosial yang lebih luas,” ujar Ibon, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, Pandeglang menghadirkan pengalaman yang sangat berbeda dengan kampung halaman. Perjumpaan dengan beragam latar belakang masyarakat menjadi ruang belajar yang tidak ia temukan sebelumnya.
“Di sini saya bertemu banyak orang dengan latar belakang yang beragam. Dari perjumpaan itu saya belajar bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di ruang sosial, dalam dialog, perbedaan, dan kebersamaan,” tuturnya.
Selama tinggal bersama paman di wilayah Cipacung, Ibon mulai memahami arti hidup di tanah rantau. Kemandirian, adaptasi budaya, dan tanggung jawab atas pilihan hidup menjadi pelajaran penting yang membentuk karakternya.
“Hidup di rantau mengajarkan saya untuk lebih mandiri, sabar, dan terbuka terhadap perubahan. Banyak pelajaran yang tidak tertulis, tetapi sangat menentukan arah hidup,” katanya.
Lingkungan akademik STKIP Syekh Manshur, ditambah keterlibatannya dalam berbagai organisasi seperti UKM TIKOM, pers mahasiswa di Banten dan luar Banten, serta PMII, turut membentuk cara berpikirnya.
“Organisasi menjadi ruang dialektika bagi saya. Di sana saya belajar berpikir kritis, memecahkan persoalan secara rasional, dan menghargai perbedaan pandangan,” ungkap Ibon.
Ia juga menilai perjumpaannya dengan para jurnalis senior di Pandeglang sebagai bagian penting dari proses pembelajaran di luar kampus.
“Dari para jurnalis senior, saya belajar tentang integritas, konsistensi, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Hubungan yang terbangun bukan hanya profesional, tapi sudah seperti keluarga,” ucapnya.
Bagi Ibon, Pandeglang kini memiliki makna lebih dari sekadar kota tempat menuntut ilmu.
“Pandeglang adalah ruang belajar kehidupan bagi saya. Di sini kesadaran, karakter, dan cara berpikir saya dibentuk. Nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab intelektual akan saya bawa ke mana pun langkah saya bermuara,” pungkasnya.

