Camel Petir dan Sahabat Dukung Muktamar NU: Menitipkan Harapan untuk NU yang Moderat, Sejuk, dan Menjadi Perekat Bangsa

waktu baca 3 menit
Rabu, 26 Agu 2026 18:00 4 Redaksi

    Jakarta — Camel Petir bersama sejumlah sahabat dari kalangan seniman, artis, dan masyarakat hadir untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai bentuk apresiasi terhadap NU, tetapi juga sebagai ungkapan kecintaan sekaligus harapan agar NU terus menjadi rumah besar bagi seluruh elemen bangsa.

    Camel Petir menilai NU memiliki karakter yang sangat kuat sebagai organisasi Islam yang mengedepankan sikap moderat, terbuka, dan mampu merawat perbedaan. Sikap tersebut dinilai penting di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

    “Kenapa kami datang dan mendukung Muktamar NU? Karena kami mencintai NU dan menitipkan harapan kepada NU. Kami ingin melihat NU tetap menjadi kekuatan yang sejuk, damai, moderat, dan menjadi perekat bangsa,” ujar Camel Petir 26 Agustus 2026.

    Menurutnya, ruang kebudayaan dan seni juga memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Seni tidak seharusnya selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai agama, selama dalam pelaksanaannya tetap menghormati norma, etika, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

    Ia juga mengingat kembali pemikiran Gus Dur yang melihat dakwah memiliki banyak pintu dan pendekatan. Nyanyian dan seni mungkin bukan satu-satunya pintu dakwah, tetapi dapat menjadi salah satu celah untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat.

    “Gus Dur pernah menyampaikan bahwa tidak ada pintu dakwah melalui nyanyi, tetapi selalu ada celah. Bagi kami, seni bisa menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kebaikan, persaudaraan, perdamaian, dan kemanusiaan. Yang penting seni itu tidak menabrak norma dan nilai yang kita junjung bersama,” katanya.

    Camel Petir berharap sikap moderat NU dapat terus memberikan ruang bagi para seniman dan pekerja kreatif untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Menurutnya, keterbukaan NU terhadap seni dan kebudayaan justru menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena menunjukkan bahwa perbedaan dapat dirawat tanpa harus kehilangan nilai-nilai agama.

    “NU yang mencintai perbedaan itu menarik. Ada ruang untuk seni, ada ruang untuk masyarakat, ada ruang untuk anak-anak bangsa. Inilah wajah Islam yang sejuk dan damai yang ingin terus kita lihat,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap Muktamar NU juga merupakan bentuk doa dan harapan agar lahir pemimpin-pemimpin NU yang kuat, bijaksana, moderat, dan mampu menjaga persatuan.

    “Kita sebagai anak bangsa menitipkan harapan. Kita ingin pemimpin-pemimpin yang kuat lahir dari NU, pemimpin yang mampu menjadi perekat perbedaan, menjaga kesejukan, dan membawa NU semakin besar manfaatnya bagi bangsa dan negara. Kita doakan agar pemimpin-pemimpin seperti itu lahir,” tutur Camel Petir.

    Menurutnya, NU mempunyai posisi strategis dalam menjaga harmoni Indonesia. Dengan kekuatan jaringan dan tradisi keagamaannya yang kuat, NU diharapkan terus menjadi salah satu kekuatan yang mampu merawat persaudaraan di tengah perbedaan pilihan, latar belakang, maupun pandangan.

    “Kami datang dengan cinta, bukan kepentingan. Kami datang membawa harapan. Semoga Muktamar NU melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa NU semakin moderat, semakin terbuka, dan semakin kuat menjadi perekat Indonesia,” pungkasnya.

    Camel Petir bersama para sahabatnya berharap Muktamar NU tidak hanya menjadi momentum pergantian atau penguatan kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat peran NU sebagai rumah besar yang menaungi ulama, santri, seniman, budayawan, generasi muda, dan seluruh masyarakat Indonesia dalam semangat persatuan, kedamaian, dan kemajuan bangsa.

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional