x

Buku Rekonstruksi Sejarah Sub Suku di Raja Ampat Menyatukan Berbagai Pandangan Peradaban

waktu baca 2 menit
Kamis, 29 Jan 2026 17:10 42 Redaksi

Harianterbit.id | Kota Sorong – Diskusi buku dan pameran foto tentang sub suku USBA sangat penting untuk diketahui mengingat data dari Dewan Adat sub suku USBA menyebutkan bahwa identitas asli masyarakat adat nyaris hilang.

Selain itu muncul pemahaman yang salah kaprah dan multitafsir di era Otonomi Khusus (Otsus) soal Orang Asli Papua (OAP). Sehingga hal ini penting diadvokasi menjadi bagian untuk diluruskan dan diceritakan serta merumuskan peradaban manusia yang sedang berjalan.

“Mudah-mudahan bisa menjadi penelusuran penelitian kedepannya,” kata Direktur Institut USBA Charles Imbir usai seremoni diskusi buku dan pameran foto di Mariat Hotel Sorong, Kamis (29/01/2026).

Charles menyebut, dengan adanya diskusi ini kita akan menyatukan pandangan perjalanan peradaban secara fisik, termasuk pertemuan Austronesia dan Melanesia serta kolaborasi hidup orang Papua hari ini dan di masa depan perlu dirajut lagi.

Ia mencontohkan, di Raja Ampat suku-suku yang berbahasa Biak dan Maya memiliki perjalanan hidup sehingga hidup menyatu.

Di masa lalu hubungan antar generasi yang sempat terputus dapat terjalin kembali melalui solidaritas, emosional, nilai-nilai luhur dan warisan serta ketuhanan di masa depan,” ujarnya.

Charkes berharap, kedamaian dapat terbentuk karena masa lalu yang membentuk kita hingga masa kini. Dan masa kini menjadi jembatan emas bagi peradaban.

Ia mengungkapkan bahwa pesan dati buku ini adalah bagaimana membentuk persatuan, ada cerita masa lampau kemudian rute perjalanan dari Mamberamo, USBA hingga Raja Ampat lalu bertemu dengan saudara-saudara dari Ambai, Numfor, Biak, Ambarbaken, Buli, Gebe, Halmahera dan Waigeo kemudian membentuk satu kesatuan sub suku USBA.

“Melalui pelayaran, perdagangan hingga sistem pernikahan kemudian bertemu dengan sistem pemerintahan dan kesultanan menjadi warna tersendiri Kebudayaan yang dibawa pun berasal dari Biak,” kata Charles.

Ia menyebut bahwa buku yang ditulis selama enam bulan tersebut telah mendapat pengakuan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XXIII Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Sebelumnya penjabat Sekda Papua Barat Daya Yakop Kareth membuka secara resmi diskusi buku dan pameran foto rekonstruksi sejarah sub suku USBA di Raja Ampat, merajut kisah dari pulau ke pulau.

Dalam sambutannya Yakop Kareth berharap, buku ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mengetahui asal-usul dan sejarah sub suku USBA sehingga kedepan generasi muda dapat menjaga warisan yang ditinggal oleh para leluhur. (Jun)

LAINNYA
x