Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Dinilai Pelayanan RSUD Adjidarmo Buruk, Ini Kata Anggota DPRD Lebak

Dinilai Pelayanan RSUD Adjidarmo Buruk, Ini Kata Anggota DPRD Lebak

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Minggu, 1 Agt 2021

HARIANTERBIT.ID, LEBAK – Anggota DPRD Kabupaten Lebak Komisi IV Bambang SP meminta pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Adjidarmo, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Menurutnya, selama ini RSUD Adjidarmo pelayanannya kurang bagus terhadap pasien.

“Kita temui Dirut RSUD Adjidarmo dan meminta agar segera melakukan perbaikan dari segi pelayanan. Ini soal kesehetan dan nyawa seseorang, jika gegabah dalam pelayanan bisa patal,”tegas Bambang. Minggu, (1/8/2021).

Kata Politisi Gerinda ini, pihaknya pernah langsung menerima pelayanan yang sangat buruk di RSUD Adjidarmo, itu menimpa kepada orang tuanya yang pernah di rawat di RSUD Adjidarmo hingga meninggal dunia.

Bambang sangat menyangkan peritiwa itu terjadi karena pelayanan RSUD yang buruk yang tidak bergerak cepat menindak pasien. Padahal kata ia, dari dokter hingga perawat itu diberikan tunjangan dari pusat sebesar Rp. 7, 500. 000 (Tujuh Juta Lima Ratus) hingga Rp. 15 Juta.

“Apakah dengan tunjangan sebesar itu tidak cukup untuk melayani pasien dengan baik. Seharusnya mereka bisa profesional dalam bertugas dan bekerja. Karena sudah dibayar oleh negara dan itu uang rakyat- rakyat juga yang dibayarkan,” tegasnya.

Bambang mengeaskan, adanya keluhan masyarakat terhadap pelayanan di RSUD Adjidarmo, tentu itu akan menjadi citra buruk bagi RSUD Adjidarmo. Dan sebetulnya bukan RSUDnya yang buruk, tetapi oknum yang membuat imej RSUD Adjidarmo ini buruk.

“Buruknya peleyanan rumah sakit, dan terasa tergesa-gesa dalam melayani pasien, tentu itu ancaman bagi pasien. Meskipun, menurut diluar logika, Allah lah yang mengatur nyawa seseorang. Tapi jika, syareatnya ditegakan dan upaya keras serta pelayanan yang baik, itu akan berdampak keras kepada pasien. Artinya, pasien bisa segera terselamatkan dengan upaya itu,”tegas Bambang.

Ungkap Bambang, selamanya alm. Ibunda tercinta di rawat di RSUD adjidarmo, pihaknya sering memperhatikan pelayanan yang kurang baik dari perawat. Seperti, adanya pembiaran dan kurang bertanggung jawab dalam melaksanakan kewajibannya.

“Seperti ibu mertua saya ini, dari penanganan hingga ahirnya ibu meninggal. Saya melihat adanya kejanggalan dalam pelayanan itu,” katanya.

“Saya menanyakan kepada pihak Rumah sakit, namun Rumah Sakit tidak ada itikad baik untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada kami selaku keluarga pasien, dan jauh dari harapan. Padahal kami siap membayar, jika ada perawat yang bisa melayani pasien dari keluarga kami,”tegas Bambang di ruang pertemuan.

Lanjutnya, merasakan peritiwa yang buruk yang dialaminya, pihaknya mengaku tidak bisa membanyangkan jika hal ini terjadi kepada pasien yang awam. Ditambah, ada indikasi kuat markup dalam tagihan berupa obyek yang mestinya tidak terpakai, tapi harus dibayar.

“Dalam kasus ini kami menggunakan pembayaran umum atau dana pribadi, bayangkan jika pakai Bpjs seperti apa pelayananya,”katanya.

Sementara itu, Direktur RSUD Adjidarmo, Dr. Anik Sakinah meminta maaf atas ketidak nyamanan dari pihak keluarga karena masih adanya kekurangan dalam pelayanan pasien yang ada di Rumah sakit.

“Kemarin setelah menerima info dari petugasnya, memang ada keluhan, saya segera menidak lanjuti, dan kami panggil semua yang terkait, baik dari ruangan sampai kepala ruanganya sendiri,”
katanya.

Kami sempat juga ketemu sama Dr. Agus Lab, kemudian Dr Agus porensip yang menangani jenajah, kemudian Dr Agung sebagai menangani Bpjs yang selama ini merawat pasien juga dari bidang-bidang lainnya yang terkait dengan pelayanan yang selama ini banyak kekurangan nya,”lanjutnya.

“Nanti saya rapatkan juga terkait apa yang disampaikan oleh pak Bambang, ada beberapa yang sempat saya catat masukan- masukan dari Pak Bangbang, baik pelayanan ataupun kekurangan para petugas kami dalam menjalankan tuk poksinya,”masih kata Dr. Anik.

Kata Dr. Anik, para penderita atau pasien yang dirawat dengan kondisi suspek atau terpaksinasi, itu dapat ruang isolasi, jadi mungkin apa yang akan pihaknya sampaikan, mulai dari awal saja sesuai masukan- masukan dari Pak Bamgbang.

“Secara hukum juga sesuai dengan aturan, setiap orang yang masuk di Rumah Sakit yang pertama test PCR atau yang kedua antigennya positif, tetapi PCR nya belum ada, karena kita masih off untuk akses testnya artinya untuk test antigen masih di akui. Dan yang ketiga, meskipun antigennya negatip, tapi dia keluhannya mengarah ke Covid dan juga hasil dari pemeriksaan dokter serta rongsen itu hasilnya ada. Sehingga suspek Covid maka pasien -pasien ini akan dirawat diruang Isolasi,”katanya.

“Ini memang diruang isolasi, kami bedakan ada zona kuning dan ada zona merah. Artinya yang sedang zona kuning, itu paseien -pasien yang memang masih menunggu hasil PCR, ketika emang PCR nya ternyata hasilnya positif akan dipindahkan kezona merah seperti itu,”kata Dr. Anik.

Perlu diketahui juga, kata Dr. Anik, bahwa masa pandemi inikan dadakan tidak ada perencanaan, kalau misalnya program pemerintah biasanya juga satu tahun sebelumnya lebih menyarankan begini, tapi ini kan masa pandemi memang langsung ada waktu itu, sehingga kita terus belajar dengan pedoman yang bukan berubah- rubah. Artinya ini dinamis dengan kondisi jumlah SDM yang tetap.

“Artinya, waktu masa pandemi kita tidak ada penambahan dengan kondisi SDM yang tetap jumalahnya. Tetapi kita diharuskan yang dirawat isolasi itu dengan menggunakan perlengkapan APD dan saat ini yang kena zona merah pakai APD. Mereka kemudiaan menjadwalkan untuk satukali sweb itu dua rombongan jadi 4 jam, dan empat jam lagi di luar dan untuk administrasinya. Artinya ini membutuhkan dua kalilipat dari jumlah perawat, yang pertama juga yang kedua, pemerintah menghimbau agar kita memberikan istirahat yang cukup bagi tenaga kesehatan,”katanya.

“Saya berharap kedepan akan terus memperbaiki segala kekurangan dalam hal pelayanan kepada para pasien rumah sakit ajidarmo,”tuntasnya.

  • Penulis: Redaksi
expand_less