Harianterbit.id. LEBAK – Penataan pedestrian dan pembangunan toilet umum di kawasan Alun-alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, senilai Rp929.903.000 yang bersumber dari APBD Kabupaten Lebak Tahun Anggaran 2026 telah rampung. Kendala pasokan air akibat longsor di area sumur bor yang sebelumnya menghambat pemanfaatan toilet kini telah diperbaiki, sehingga fasilitas tersebut dapat digunakan masyarakat.
Proyek yang berlokasi di sisi barat hingga barat daya Alun-alun Rangkasbitung itu dilaksanakan oleh CV Langkah Awal Berkah. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari penataan ruang publik yang diharapkan dapat menunjang kenyamanan warga dan pengunjung.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak, H. Dade Yan Apriandi, menjelaskan bahwa bangunan pedestrian dan toilet telah selesai dikerjakan. Sementara itu, gangguan pada fasilitas air akibat longsor di area sumur bor juga telah ditangani.
Perbaikan dilakukan untuk memulihkan pasokan air yang dibutuhkan dalam operasional toilet umum.
Sebelumnya, meski toilet telah dibuka untuk masyarakat, pemanfaatannya belum optimal karena air tidak mengalir akibat gangguan pada sumur bor. Dinas PUPR Kabupaten Lebak kemudian meminta kontraktor pelaksana menangani kendala tersebut, mengingat pekerjaan masih berada dalam masa pemeliharaan.
Kepala Bidang Cipta Karya DPUPR Kabupaten Lebak, Diana, sebelumnya menyampaikan bahwa toilet umum telah dibuka sejak pekan sebelumnya. Pihaknya juga telah menyerahkan kunci toilet kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lebak untuk mendukung kegiatan kebersihan dan pemeliharaan harian.
“Toilet umum sudah dibuka sejak pekan kemarin. Kunci juga sudah diserahkan ke Dinas LH untuk membantu bersih-bersih dan pemeliharaannya,” kata Diana kepada wartawan, Jumat (23/10/2026).
Di sisi lain, Kepala DLH Kabupaten Lebak, Irvan Suyatupika, mengatakan bahwa pihaknya telah mulai menjalankan kegiatan kebersihan di fasilitas tersebut. Namun, hingga keterangan itu disampaikan, proses serah terima aset dari DPUPR kepada DLH belum dilakukan.
“Untuk menjaga kebersihan sudah mulai kami laksanakan sambil menunggu kebijakan selanjutnya. Namun, serah terima asetnya belum dilakukan,” kata Irvan.
Dengan selesainya perbaikan sumur bor, pasokan air kini kembali normal dan toilet umum dapat dimanfaatkan masyarakat. Meski demikian, keberlangsungan fungsi fasilitas tersebut tidak hanya bergantung pada penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga pada pemeliharaan rutin dan kejelasan pengelolaan aset.
Dengan nilai anggaran mencapai Rp929,9 juta, kualitas hasil pekerjaan, kelayakan sarana pendukung, serta keberfungsian fasilitas menjadi bagian penting dari evaluasi pembangunan yang dibiayai melalui APBD.
Kejelasan tanggung jawab pengelolaan dan pemeliharaan juga diperlukan agar fasilitas publik tersebut tetap bersih, terawat, dan berfungsi dalam jangka panjang. Pada akhirnya, manfaat pembangunan tidak hanya diukur dari bangunan yang telah selesai, tetapi juga dari sejauh mana fasilitas itu dapat digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

