Presma UIN Banten Dorong Mahasiswa Sampaikan Kritik Tanpa Anarkisme

waktu baca 2 menit
Selasa, 18 Agu 2026 13:41 0 Redaksi

    Harianterbit.id Serang – Presiden Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten 2024, Bagas Yulianto, mengajak mahasiswa dan masyarakat menyikapi dinamika aksi kritik terhadap kebijakan pemerintah secara bijak dan bertanggung jawab.

    Menurut Bagas, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab, penghormatan terhadap hukum, ketertiban umum, serta hak masyarakat lainnya.

    Bagas mengatakan, pengalaman aksi pada Agustus tahun sebelumnya yang diwarnai tindakan anarkis harus menjadi pembelajaran bersama. Menurut dia, demonstrasi merupakan ruang konstitusional untuk menyampaikan aspirasi, tetapi tindakan destruktif dapat menghilangkan substansi perjuangan.

    “Kami memahami bahwa demonstrasi merupakan bagian dari demokrasi dan ruang konstitusional untuk menyampaikan keresahan masyarakat. Tetapi ketika aksi berubah menjadi pengerusakan, pembakaran, atau penjarahan, substansi perjuangan justru berpotensi hilang dan bergeser menjadi tindakan destruktif,” ujar Bagas.

    Ia menilai tindakan anarkis tidak hanya berpotensi menimbulkan kerugian material, tetapi juga dapat memperlebar polarisasi sosial. Kondisi tersebut, kata dia, berisiko membangun persepsi negatif terhadap gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil yang sedang memperjuangkan kepentingannya.

    *”Kami melihat beberapa pihak, salah satunya BEM UI masih belum dewasa melihat kondisi di tahun lalu dan masih memaksakan untuk terus membuat keriuhan di bulan kemerdekaan ini, bulan yang biasa kita rayakan dengan suka cita dan optimisme.*” urainya.

    Bagas menegaskan, kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan dalam negara demokrasi. Namun, kritik sebaiknya disampaikan secara konstruktif, berbasis data dan argumentasi, serta melalui mekanisme yang sesuai dengan konstitusi.

    “Kami tidak sedang mengajak pemuda untuk diam. Justru kami mengajak pemuda untuk tetap bersuara, tetapi dengan cara yang bermartabat. Kritik boleh tajam, aspirasi boleh keras, tetapi jangan sampai perjuangan kehilangan nilai kemanusiaan dan persatuan,” tegasnya.

    Selain demonstrasi, Bagas mendorong mahasiswa memperluas bentuk partisipasi publik melalui diskusi, kajian kebijakan, pendidikan politik, kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, hingga kampanye digital yang edukatif.

    Menurut dia, gerakan pemuda seharusnya tidak hanya berperan sebagai kelompok yang mengkritik kebijakan, tetapi juga mampu menawarkan gagasan dan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

    “Indonesia membutuhkan pemuda yang berani bersuara, tetapi juga mampu menjaga persatuan. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan rasa sebagai satu bangsa. Demokrasi harus menjadi ruang untuk mencari solusi, bukan alasan untuk saling menghancurkan,” ujarnya.

    Bagas juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan politik maupun kebijakan. Ia berharap perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi konflik horizontal.

    Ia menegaskan komitmennya untuk mendorong budaya demokrasi yang kritis, damai, sehat, dan berdampak bagi masyarakat.

    “Aspirasi boleh keras, tetapi jangan kehilangan arah. Kritik harus tajam, tetapi tidak harus anarkis. Bergerak boleh, namun tetap menjaga Indonesia,” pungkas Bagas.

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional