Dari Ya Lobbi ke Ya Robby: Strategi Indonesia Menghadapi Dinamika Global

waktu baca 4 menit
Sabtu, 14 Mar 2026 19:34 111 Redaksi

    Harianterbit.id | Jakarta – Di tengah suasana khidmat bulan suci Ramadhan, Mubarok Institute menggelar diskusi interaktif dan simposium pada Sabtu (14/3) bertajuk “Menyikapi Dinamika Politik Global dalam Perspektif Geostrategi dan Geopolitik Indonesia.”

    Forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi kebijakan, tetapi juga refleksi mendalam mengenai hakikat pengabdian manusia sebagai insan di tengah dinamika kekuasaan global.

    Geopolitik dan Integritas Kepemimpinan

    Dalam rangkaian Simposium Ramadhan tersebut, Mubarok Institute membedah posisi strategis Indonesia di tengah persaingan kekuatan dunia. Forum menegaskan bahwa kedaulatan bangsa tidak semata diukur dari kekuatan militer, melainkan juga dari ketahanan integritas dan etika para pemimpinnya.

    Diskusi geostrategi menyoroti posisi Indonesia yang berada di titik silang kepentingan kekuatan besar dunia. Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, Indonesia dinilai perlu memainkan politik Bebas Aktif secara lebih transformatif.

    Sekretaris Jenderal Mubarok Institute, Herry Purnomo, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi menjadi kekuatan alternatif di panggung global.

    “Indonesia memiliki potensi untuk menjadi kekuatan alternatif di panggung dunia. Namun prasyarat utamanya adalah bangsa ini harus sehat secara mental dan bersih dari penyakit korupsi sistemik,” ujarnya.

    Sementara itu, Chairman Mubarok Institute Fadhil As. Mubarok menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas sebagai indikator kedaulatan bangsa.

    “Penegakan hukum yang kuat tanpa pandang bulu adalah manifestasi nyata dari bangsa yang berdaulat secara hakiki,” katanya.

    Filosofi Pulang dan Integritas Pemimpin

    Simposium juga menghadirkan refleksi filosofis mengenai hakikat “pulang” dalam kehidupan manusia. Ramadhan dimaknai sebagai momentum untuk menyadari bahwa setiap individu, termasuk pemimpin dan pemangku kebijakan, pada akhirnya akan kembali menghadap Sang Pencipta.

    Dalam paparannya, Fadhil As. Mubarok menjelaskan bahwa ketakutan manusia terhadap kematian sering kali berasal dari keterikatan duniawi yang berlebihan.

    “Jika dunia hanya dianggap sebagai terminal, maka kepulangan menuju Allah akan terasa ringan. Namun bagi mereka yang rakus dan menumpuk harta melalui jalan yang tidak benar, kepulangan menjadi sesuatu yang menakutkan,” ujarnya.

    Metafora Lebah dan Lalat dalam Etika Bernegara

    Dalam diskusi tersebut, Mubarok Institute juga menyoroti metafora lebah dan lalat sebagai gambaran etika dalam kehidupan berbangsa.

    Lebah digambarkan sebagai simbol individu yang membangun peradaban dengan kemanfaatan, sementara lalat melambangkan perilaku yang gemar mencari keburukan dan menyebarkan “penyakit” sistemik seperti korupsi.

    Fadhil menegaskan bahwa korupsi dan praktik mafia merupakan bentuk akhlaq madzmumah atau perilaku tercela yang merusak sendi-sendi negara.

    Ia juga mengingatkan kisah ketegasan Nabi Muhammad SAW dalam kasus pencurian yang dilakukan seorang perempuan dari Bani Makhzum, suku terpandang di Mekkah.

    “Pesannya jelas, hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Integritas bangsa dipertaruhkan pada kemampuan negara menegakkan hukum tanpa pandang bulu,” tegasnya.

    Strategi “Ya Robbi” dan “Ya Lobby”

    Sebagai solusi strategis, Mubarok Institute memperkenalkan konsep “Ya Robbi dan Ya Lobby.”

    Konsep Ya Robbi merujuk pada dimensi spiritual niat yang tulus, keikhlasan, dan kesadaran moral sebagai fondasi perjuangan.

    Sementara Ya Lobby menekankan pentingnya diplomasi cerdas dan penguatan jejaring profesional yang bersih untuk menghadapi dominasi oligarki dan praktik politik kotor.

    Sinergi kedua dimensi tersebut dinilai penting untuk mengawal aspirasi bangsa sekaligus mencegah penyimpangan kekuasaan yang berujung pada kasus-kasus korupsi, seperti operasi tangkap tangan (OTT) yang menimpa sejumlah kepala daerah belakangan ini.

    Indonesia di Panggung Dunia

    Dalam perspektif geostrategis, forum tersebut menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan alternatif di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

    Melalui perpaduan antara profesionalitas diplomasi dan kedalaman spiritual, Indonesia diharapkan mampu tampil sebagai bangsa yang berdaulat, beradab, dan disegani di panggung internasional.

    “Kesuksesan bernegara tidak boleh dipisahkan dari kesadaran bahwa kita semua akan pulang. Kepemimpinan yang autentik adalah kepemimpinan yang sadar akan tanggung jawabnya di hadapan sejarah dan di hadapan Tuhan,” kata Fadhil.

    Melawan Oligarki dan Politik Uang

    Diskusi juga menyoroti tantangan domestik yang dapat menghambat peran geopolitik Indonesia, seperti dominasi oligarki ekonomi dan praktik politik uang.

    Mubarok Institute mendorong terbentuknya sinergi jaringan profesional yang bersih untuk mengimbangi pengaruh kekuatan destruktif tersebut.

    Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan negara tetap berlandaskan nilai moral serta kesadaran bahwa kekuasaan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

    Ramadhan sebagai Kompas Kebijakan

    Wakil Rektor UIN SAIZU Purwokerto, Prof. Sulkhan Chakim, dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa Mubarok Institute memiliki peran strategis dalam memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah terkait dinamika politik global.

    Ia juga menilai momentum Ramadhan dan kegiatan buka puasa bersama menjadi ruang refleksi yang tepat bagi bangsa Indonesia dalam meneguhkan perannya bagi stabilitas politik dunia.

    Simposium kemudian ditutup dengan kesimpulan bahwa perspektif geopolitik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai spiritualitas Al-Qur’an.

    Dengan memadukan profesionalitas dan kedalaman spiritual, Mubarok Institute mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga integritas dan mengawal visi Indonesia yang bersih, jujur, dan berpihak pada rakyat.

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional