Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Trending » Tuntutan Mundur Kepada Jokowi Adalah Hal Yang Melelahkan

Tuntutan Mundur Kepada Jokowi Adalah Hal Yang Melelahkan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 3 Agt 2021

HARIANTERBIT.ID JAKARTA – Socratos dan Plato pernah mengkritik demokrasi dari sudut pandang Filosofis “They are free men; the city is full of freedom and liberty of speech, and men in it may do what they like.” ( Republic, page 11)

Saat ini memang zamannya keterbukaan, semua orang boleh bicara dan mengeluarkan pendapat dengan bebas, bahkan berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah hingga berjilid-jilid seperti makanan sehari-hari. Tapi jika boleh saya menyarankan kepada para pendemo khususnya gerakan mahasiswa, agar tidak membawa isu turunkan Jokowi, karena hal itu termasuk pekerjaan yang bukan hanya melelahkan tetapi juga sia-sia. Terbukti sejak tahun 2015 hingga saat ini, Joko Widodo masih menjabat sebagai Presiden pilihan rakyat.

Menyarankan untuk tidak membawa isu turunkan Jokowi, bukan sebagai bentuk pertentangan atas apa yang menjadi tuntutan, karena menuntut Presiden untuk mundur dengan alasan tertentu adalah hak warga negara, tapi membela Presiden untuk tetap menjabat juga menjadi hak demokrasi warga negara, dengan catatan kedua paham yang bersebrangan harus tetap menjunjung tinggi undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Bayangkan, ada sebagian besar rakyat yang pernah memilih Jokowi menjadi Presiden pada saat Pilpres 2014 dan 2019. Mereka dipastikan tidak akan mau menerima begitu saja pilihannya diturunkan ditengah jalan. Pastinya mereka akan melakukan pembelaan semampu mereka untuk menjaga Jokowi dari serangan oposisi yang selalu ingin menuntut lengser.

Selain itu, menuntut Jokowi turun untuk saat ini adalah sebuah tuntutan yang sangat tidak realistis. Dari kalkulasi apapun sangat sulit diperhitungkan. Hal ini tak ubahnya seperti akan ada sebuah pertandingan bola, dimana Timnas Indonesia akan melawan klub kesebelasan sepak bola Eropa Barcelona, lalu Timnas Indonesia berambisi mengalahkan dengan skor telak 5-0. Maka siapapun akan tertawa pastinya, kecuali jika 10 atau 20 tahun lagi mungkin saja.

Memang terlihat, bahwa gerakan mahasiswa saat ini ingin mengikuti jejak seniornya di tahun 1998 yang berhasil melengserkan Suharto. Mengingat nama gerakan mahasiswa kini sudah lebih dari 20 tahun tertidur dan tidak tertulis didalam sejarah. Tapi gerakan mahasiswa juga harus paham kondisi, bahwa yang melengserkan Presiden Suharto adalah rakyat, dimana mahasiswa hanya sebagai pelopor saja. Jika tak ada dukungan rakyat, sebanyak apapun gerakan mahasiswa tetap sulit melengserkan Suharto. Dan saat ini apakah sebagian besar rakyat mendukung Jokowi mundur? Jika jawaban Iya, pasti ditahun 2019 Jokowi sudah lengser lebih dulu.

Bagi mahasiswa angkatan 98, isu menurunkan Jokowi seperti sebuah anekdot politik. Hal inipun ditanggapi sambil tertawa geli dan hanya menganggap hal itu sebagai angin lalu saja. Perlu diketahui, Kondisi Jokowi sangat berbeda dengan Suharto. Jokowi lahir dari sebuah pemilu besar di mana rakyat langsung memilihnya. Sementara, Suharto menjadi Presiden yang hanya dipilih oleh segelintir elit, di dalam ruangan. Jika Jokowi ingin dilengserkan oleh rakyat, yang menjadi pertanyaan adalah rakyat yang mana?

Berbeda ketika Orde Baru tumbang, sebagian besar rakyat menginginkan Suharto untuk turun dari kursi Presiden, yang terjadi diantara rakyat saat itu adalah keselarasan dan tidak ada pertentangan sama sekali. Pertentangan justru datang hanya dari aparat bersenjata saja. Itupun karena mereka menganut sistem komando, artinya apapun yang diperintah atasan harus dijalankan.

Hal yang menjadi unik adalah, setiap tahun selalu ada demonstrasi besar menuntut Jokowi mundur, dengan dengan isu yang selalu berubah. Diduga kuat isu yang tidak konsisten tersebut hasil dari titipan para politisi. Paadahal elit politik yang menitip isu paham betul, bahwa sangat sulit menjatuhkan Jokowi. Tapi untuk kepentingan politik ini menjadi sebuah kewajaran, selagi mahasiswa mudah diatur.

Bicara soal perbedaan, masyarakat Indonesia sudah sangat teruji, terbukti sampai saat ini Negara Kesatuan Republik Indonesia masih dalam keadaan damai tanpa ada konflik yang berarti. Namun yang dikhawatirkan adalah, jika semua gerakan mahasiswa terfokus pada isu turunkan Jokowi, maka tidak menutup kemungkinan banyak terjadi penyalahgunaan dari para penyelenggara pemerintahan di berbagai daerah yang luput dari pengawasan. Artinya, ketika mahasiswa sibuk dan ngotot ingin mentuhkan Presiden Jokowi, sementara penyelewengan di berbagai daerah tenang melenggang. Hal ini menjadi sebuah kotraproduktif bagi eksistensi gerakan mahasiswa

Menurut Socrates dan Plato, rakyat yang terlalu bebas, juga akan membawa bencana bagi negara dan warganya. Jika setiap orang menginginkan tindakan yang mereka sukai, maka akan muncul kekacauan, kekerasan, hilangnya moral dan juga kebejatan.

Socrates dan Plato juga menambahkan bahwa manusia memiliki tingkat kesadaran dan intelektual yang berbeda-beda, dalam berdemokrasi. Orang bodoh, orang jahat, orang cerdas, maupun orang baik, jika memiliki hak yang sama, maka akan muncul kekacauan dan kerusakan. Seperti yang saat ini terjadi di Indonesia. Beruntung kita masih memiliki TNI – POLRI yang solid, hingga kekacauan seperti yang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah, tidak terjadi di negri ini.

  • Penulis: Redaksi
expand_less