x

Derita Warga Jalan Tergenang Lumpur, Musa Weliasyah Buka Dompet Pribadi

waktu baca 5 menit
Senin, 16 Feb 2026 21:03 15 Redaksi

Harianterbit.id Lebak – Hujan deras yang mengguyur Kampung Pangairan, Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping pada awal bulan ini tidak hanya membasahi tanah, tetapi juga menusuk hati Mak Minah (52 tahun), seorang pedagang sayur yang setiap paginya harus berjuang melintasi jalan yang sudah rusak parah selama lebih dari setahun.

“Suatu hari saya membawa bakul sayur sebanyak lima kilogram untuk dijual ke pasar Malingping. Tapi karena jalan penuh dengan lubang dan lumpur yang dalamnya sampai mata kaki, saya terpeleset dan seluruh sayur saya tercampur dengan lumpur,” cerita Mak Minah sambil mengusap mata yang mulai berkaca-kaca.

“Hari itu saya tidak bisa menjual apa-apa, uang seharian saya sirna begitu saja. Anak saya yang sedang sakit tidak bisa saya belikan obat karena itu.” sambungnya sambil membayangkan kondisi jalan.

Kisah sedih Mak Minah bukanlah hal baru di kampung ini. Jalan sepanjang 500 meter yang menghubungkan Kampung Pangairan dengan jalan utama telah lama menjadi momok bagi seluruh warga. Setiap musim hujan, jalan yang tidak memiliki lapisan aspal akan tergenang air dan lumpur, sementara di musim kemarau, jalan menjadi penuh dengan lubang yang dalamnya bisa mencapai 30 sentimeter.

Pak Slamet (45 tahun), seorang petani jagung, mengaku sering kehilangan hasil panen karena tidak bisa mengangkutnya tepat waktu ke pasar.

“Saat panen musim lalu, saya harus menyewa tiga orang untuk membawa jagung dengan menggunakan bakul karena kendaraan tidak bisa masuk. Biaya yang harus saya keluarkan jadi dua kali lipat dari biasanya, padahal harga jagung sudah sangat murah,” ujarnya dengan nada menyesal.

“Banyak anak muda dari kampung ini yang memilih keluar mencari kerja karena mereka merasa tidak ada harapan kalau jalan seperti ini terus tidak diperbaiki.” tambahnya dengan mata berkaca.

Kondisi yang semakin memprihatinkan ini akhirnya sampai ke telinga Anggota DPRD Banten dari fraksi PPP, Musa Weliasyah. Setelah melakukan kunjungan mendadak dan melihat kondisi jalan dengan mata kepala sendiri, ia memutuskan tidak akan menunggu anggaran pemerintah yang mungkin perlu waktu lama untuk dicairkan.

“Ketika saya melihat seorang ibu membawa anaknya yang sakit dengan menggunakan becak, dan mereka harus berhenti berkali-kali karena becak terjebak di lumpur, hatiku terasa sangat berat,” ucap Musa saat menghadiri kegiatan gotong royong rehabilitasi jalan pada Senin (16/2/2026).

“Saya tidak bisa tinggal diam melihat rakyat saya menderita seperti ini.” tambah Musa.

Dengan menggunakan dana pribadi, Musa menyediakan material berupa lima unit dump truck yang membawa sekitar 35 meter kubik material dasar jalan. Namun, yang membuatnya lebih tersentuh adalah semangat warga yang dengan sukarela turut serta dalam pekerjaan rehabilitasi tersebut.

Mulai dari anak muda hingga orang tua, seluruh warga berkumpul dengan membawa alat-alat sederhana seperti cangkul, sekop, dan ember. Mereka bekerja bersama-sama dari pagi hingga sore, tanpa mengenal lelah.

Saat matahari mulai memancarkan panas yang menyengat, tidak seorang pun yang mengeluh. Bahkan beberapa warga yang awalnya sering berseteru karena masalah kecil, kini bekerja bahu-membahu dengan tawa dan candaan.

“Alhamdulillah, saya sangat mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat. Ini adalah kolaborasi nyata antara wakil rakyat dan warga dalam membangun infrastruktur,” ujar Musa sambil menumpahkan keringatnya bersama warga saat meratakan material jalan.

Selama proses pengerjaan, Musa juga mengambil waktu untuk duduk bersama warga di bawah pepohonan sederhana, mendengarkan setiap keluhan dan harapan mereka secara langsung. Ia mendengar bagaimana beberapa anak sekolah harus berjalan kaki hingga satu kilometer untuk mencapai titik kumpul angkutan umum, bagaimana petani kesulitan memasarkan hasil pertanian mereka, dan bagaimana beberapa keluarga tidak bisa mendapatkan akses kesehatan yang cepat saat ada anggota keluarga yang sakit parah.

“Dengan turun langsung seperti ini, saya bisa mendengar aspirasi masyarakat apa adanya, bukan berdasarkan laporan atau cerita pihak lain,” jelas Musa.

“Saya menyadari bahwa masalah jalan bukan hanya masalah fisik, tetapi juga masalah yang menyentuh kehidupan dan masa depan setiap keluarga di sini.” jelasnya lagi.

Setelah berjam-jam bekerja bersama, akhirnya jalan yang rusak parah bisa direhabilitasi dengan baik. Warga yang tadinya harus berhati-hati melintas, kini bisa melewatinya dengan lebih aman dan nyaman. Mak Minah bahkan langsung mencoba membawa bakul sayurnya melalui jalan yang baru direhabilitasi, dengan wajah yang penuh senyum.

“Terima kasih banyak Pak Musa, sekarang saya tidak perlu takut lagi sayur saya tercampur lumpur,” ujar Mak Minah sambil menangis bahagia.

“Anak-anak kita sekarang bisa pergi sekolah dengan lebih cepat dan tidak lagi kotor karena lumpur.” timpal Mak Minah.

Musa menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang memperbaiki jalan, tetapi juga tentang menghidupkan kembali nilai luhur bangsa Indonesia yang mulai terlupakan.

“Bekerja bersama, saling tolong-menolong, dan bahu-membahu adalah budaya kita. Ini yang ingin terus saya jaga dan hidupkan di tengah masyarakat,” katanya dengan suara yang penuh semangat.

Program “Ngahadean Jalan” yang digagasnya akan terus dilaksanakan secara bertahap di wilayah Lebak Selatan, mencakup berbagai jenis jalan dari jalan poros kabupaten hingga jalan lingkungan. Dukungan dari pimpinan daerah juga membuat langkah ini semakin kuat untuk berjalan.

“Kami satu tujuan, membangun Lebak ke arah yang lebih baik secara bertahap, dengan semangat kebersamaan,” pungkas Musa sambil melihat warga yang kini sedang berjalan santai di atas jalan yang baru mereka bangun bersama-sama.

Di kejauhan, terlihat anak-anak sedang berlari-lari kecil di jalan yang sudah tidak lagi penuh dengan lubang dan lumpur — sebuah harapan baru yang mulai berkembang di kampung yang dulunya terisolir karena jalan rusak.

LAINNYA
x