Peristiwa Cipasung Cukup Sekali, Jamaah Perlu Jaga Jam’iyah

waktu baca 4 menit
Sabtu, 29 Agu 2026 13:30 5 Redaksi

    Harianterbit.id-Jombang – Pengalaman Muktamar Cipasung 1994 memperlihatkan dengan gamblang betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika kepentingan kekuasaan mulai masuk terlalu jauh ke dalam urusan jam’iyah.

    Greg Barton merekam detail itu dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2003).

    Sebelum Muktamar Cipasung, hubungan Gus Dur dengan Pemerintahan Soeharto sedang tidak baik-baik saja. Salah satu pangkalnya adalah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Sabtu 29 Agustus 2026.

    Dalam catatan Barton, Presiden Soeharto saat itu marah karena Gus Dur tidak mendorong warga NU untuk aktif di ICMI. Gus Dur justru mengambil jalan berbeda, menjaga jarak. Pada saat yang sama, sikap kritis Gus Dur terhadap pemerintah semakin kuat.

    Barton melihat bahwa sikap itu membuat Gus Dur menjadi potensi masalah bagi kekuasaan.

    Lantas, menjelang berakhirnya periode kedua kepemimpinannya di PBNU, Gus Dur sebenarnya sempat berpikir untuk tidak maju lagi. Tetapi ada kekhawatiran lain dalam pandangan Gus Dur: NU bisa dibajak kepentingan politik yang dekat dengan rezim.

    Akhirnya, Gus Dur berubah pikiran. Beberapa pekan menjelang Muktamar, ia memutuskan kembali maju sebagai Ketua Umum PBNU.

    Kepada Barton, Gus Dur menggambarkan situasi yang akan dihadapi NU seperti badai dan laut yang berombak. Dalam keadaan seperti itu, menurut Gus Dur, NU membutuhkan nakhoda yang berpengalaman.

    Kekhawatiran itu kemudian terlihat di Cipasung.

    Barton mencatat adanya usaha yang kuat untuk menggagalkan Gus Dur memimpin PBNU untuk periode ketiga. Gerakan menyingkirkan Gus Dur semakin intens menjelang Muktamar. Sejumlah pejabat sipil dan unsur militer ikut berada dalam pusaran tersebut.

    Di lingkungan NU sendiri, penolakan terhadap Gus Dur juga ada. Gus Dur bukan calon tanpa lawan. Kepemimpinannya dikritik.

    Salah satu kritik yang muncul adalah sikapnya yang dianggap terlalu sering membawa NU berhadap-hadapan dengan rezim Soeharto.

    Lalu muncul gerakan yang sederhana namanya, tetapi jelas tujuannya: Gerakan Asal Bukan Gus Dur (ABG).

    Cipasung akhirnya bukan sekadar pertarungan dua kandidat. Dalam catatan Barton, ada pertarungan yang jauh lebih besar di belakangnya: soal siapa yang berhak menentukan pemimpin NU.

    Bahkan sejak pembukaan Muktamar, tekanan itu terasa.

    Barton mencatat Gus Dur, yang ketika itu masih menjabat Ketua Umum PBNU, ditempatkan di baris ketiga ketika Presiden Soeharto menghadiri pembukaan. Soeharto juga tidak menyapanya secara resmi.

    Pengamanan tidak biasa. Ratusan aparat intelijen berada di sekitar arena. Lebih dari seribu tentara berseragam juga hadir di lingkungan pesantren tempat Muktamar berlangsung.

    Situasinya terang. Gus Dur sedang berhadapan bukan hanya dengan lawan di dalam arena pemilihan. Ada kekuatan yang jauh lebih besar di luarnya.

    Namun, hasil akhirnya berbeda dari yang diharapkan kekuasaan.

    Gus Dur menang.

    Tipis. Dramatis. Nyaris gagal.

    Barton menulis bahwa Gus Dur tetap muncul sebagai pemenang meskipun rezim Soeharto melakukan berbagai cara untuk menentang terpilihnya kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU.

    Bagi Gus Dur, kemenangan itu bukan semata soal mendapatkan satu periode lagi di PBNU. Ia menyebut dirinya berhasil melewati pertarungan melawan uang, fitnah, dan intimidasi.

    Cipasung akhirnya menjadi lebih dari cerita tentang Gus Dur. Ia menjadi cerita tentang kedaulatan NU.

    Tiga puluh dua tahun kemudian, cerita itu penting dibaca lagi.

    Bukan karena setiap Muktamar harus dicurigai seperti Cipasung. Bukan pula karena setiap kedekatan orang NU dengan pemerintah harus dianggap sebagai intervensi.

    Zamannya berbeda. Pemerintahannya berbeda. Aktornya juga berbeda.

    Tetapi pertanyaannya tetap sama:

    Siapa yang menentukan masa depan NU?

    Jawabannya mestinya sederhana: orang NU sendiri.

    Cipasung mengajarkan bahwa intervensi dari luar akan menjadi lebih berbahaya ketika bertemu kepentingan dari dalam. Konflik internal, persaingan kandidat, dan kedekatan dengan kekuasaan bisa menjadi jalan masuk bagi kepentingan yang lebih besar.

    Oleh karena itu, menjaga kedaulatan NU tidak cukup dengan meminta pihak luar tidak ikut campur. Orang NU sendiri juga harus menjaga pintunya.

    PWNU menjaga pilihannya.

    PCNU menjaga suaranya.

    Kiai menjaga marwahnya.

    Muktamirin menjaga kemerdekaannya.

    Dan jamaah menjaga jam’iyahnya.

    NU tidak perlu mengulang Cipasung untuk kembali membuktikan kemandiriannya. Pelajarannya sudah cukup jelas.

    Cipasung cukup sekali. Jangan sampai terulangi.

    Jamaah jaga jam’iyah lagi untuk NU yang berdaulat kembali.

    (M-Rhm)

    Pers Nasional
    LAINNYA
    Pers Nasional