Banten  

Diduga Tak Sesuai Spek, LSM LBR Minta PJKA Pusat Turun Periksa Besi Panel Jalur Kereta Rangkasbitung Merak

Avatar of Redaksi
Diduga Tak Sesuai Spek, LSM LBR Minta PJKA Pusat Turun Periksa Besi Panel Jalur Kereta Rangkasbitung Merak I Harian Terbit

HARIANTERBIT.ID, LEBAK – LSM Laskar Banten Reformasi meminta agar pihak PJKA Pusat segera turun ke Kabupaten Lebak untuk memeriksa kualitas proyek pemasangan pagar panel jalur Rangkasbitung- Merak. Pasalnya, pemasangan besi panel di Jalur tersebut diduga tidak sesuai dengan spesifikasi.

“Kami meminta agar pihak PJKA pusat segera menurunkan Tim untuk mengecek kualitas pembangunan panel jalur Rangkasbitung Merak ini. Karena, kami menduga proyek tersebut tidak sesuai dengan spek,”tegas Ketua LSM LBR Sutisna pada awak media, Jumat (4/3/2022).

Kata Sutisna, dirinya telah mengecek besi yang digunakan untuk pagar panel untuk atasnya tersebut yaitu menggunakan besi nomor 6, besi 8 dan besi 12.

“Jika tidak sesuai spek, bukan hanya merugikan negara, tapi itu juga dikhawatirkan akan membahayakan warga yang melintas. Karena, jika besi yang di pasang tidak sesuai bisa saja nanti pagar itu roboh dan menimpa warga sekitar. Dan besi yang di pasang di atas itu beda beda, biasanya kan sama, jika ukuran besinya 12 ya semuanya 12, kok ini beda beda besi di atasnya, menurut saya ini gak sesuai spek,  “katanya.

Untuk itu, Sutisna dengan tegas meminta agar pihak PJKA pusat segera mengecek dan membongkar kembali dan disesuaikan dengan spesifikasi yang ditentukan PJKA.

Selain itu, Sutisna meminta agar perusahaan atau pemenang tender tersebut di coret.

“Bahkan, kami tidak melihat papan proyeknya, siapa pemenang tendernya dan PT. nya apa, tidak terlihat, gak jelas,”pungkas Sutisna.

Sementara itu, Tono selaku pengawas atau Koordinator lapangan ketika di konfirmasi di lokasi, menurutnya speknya tersebut sudah disesuaikan dengan yang di kantor. Namun, pihaknya tidak bisa memberikan bukti spesifikasinya.

Lanjut Tono, pembangunan slup Prikes tersebut keseluruhan diperkirakan sekitar 400 meter.

“Disini ada beberapa yang ngesub, ada yang sub kabel, ada yang ngesub U- Dith, ada juga yang ngesub prikes. Karena ini percepatan, jadi saya minta gambar dari kantor sesuai intruksi dari kantor, saya juga tidak mau menyalahi aturan, kalaupun slupnya ada kesalahan, pasti langsung di perbaiki, karena setiap hari konsultan turun dari kantor,”kata Tono.

Ketika ditanya untuk spesifikasi, kata Tono, itu menggunakan besi ukuran besi 12, besi 8 dan besi 6.

“Artinya, itu besi 6 untuk ring, besi 8 nya untuk 3 jalur, dan untuk besi 12 itu untuk satu jalur. Dari sananya memang besi untuk di atasnya gak sama, masalahnya disitu kan perbandingan kubikasinya dengan perbandingan bobotnya, jadi ada semacam kombinasi,”katanya.

Sementara itu, pelaksana proyek pemasangan selup atas panel, besi panel proyek PJKA jalur Rangkasbitung – Merak, H. Roup membenarkan bahwa proyeksi tersebut sebelumnya ia yang mengerjakan. Namun saat ini, ia mengaku sudah tidak lagi mengerjakan proyek tersebut.

“Kalau tidak salah saya menerima SPK itu tanggal 2 Oktober 2021, itu dari PT. Moderen. Tapi pada kenyataannya PT. Lubuk yang ngesub ke pelaksana yaitu ke CV saya,”kata H. Roup.

Ketika ditanya sejauh mana pekerjaan ketika H. Roup melaksanakan, ia mengklaim bahwa ketika ia yang mengerjakan proyek tersebut tidak lancar dan tidak ada kendala. Namun kata ia, ketika sedang mengerjakan slup bagian atas dirinya mengakui ada keterlambatan.

“Memang pas waktu itu ada keterlambatan, masalahnya, kami harus bikin cetakan. Kemudian setelah kita oper kelapangan dan slup itu sudah berada di lokasi, bahkan sudah ada yang terpasang kurang lebih ada 20 brikes, 20 batang slup di atas yang itu sudah siap pasang, namun tiba tiba ada pemberhentian secara teguran di Whastapp,” ungkapnya.

Kemudian lanjut dia menceritakan, pada saat itu tanggal 27 menerima Wa pemberhentian, namun ia terus melanjutkan pekerjaan. Karena menurutnya, pemberhentian itu tidak jelas.

“Jadi waktu itu kami terus mengerjakan. Namun, tetap saja kami tidak bisa melanjutkan pekerjaan itu dengan alasan karena sudah habis waktu. Akhirnya kami mengalah, dan semua material yang sudah di lokasi kami tarik kembali, bahkan yang sudah terpasang di atas itu kurang lebih ada 20 brikes, itu semua kami turunkan lagi kami bawa lagi ke pabrik,”ungkap H. Roup.

Sehingga para proses ditariknya kembali brikes, kata H. Roup, dirinya justru sangat bertanya – tanya, pemberhentian itu berdasarkan apa. Sehingga lanjut ia, dirinya menghubungi melalui telepon dan whatsapp menanyakan ini dasarnya apa.

“Dasarnya, katanya tidak sesuai dengan spek, awal itu sudah habis waktu, kemudian setelah kami melakukan pemasangan tidak sesuai dengan spek, kemudian kami bicarakan dengan pihak kantor, tujuan kami agar bahan kami tetap terpasang, adapun kalau betul ada yang tidak sesuai dengan spek kan bisa saya perbaiki atau disesuaikan dengan spek,”tegasnya.

Ketika ditanya kembali, apa yang menurut mereka itu tidak sesuai, kata H. Roup, menurut mereka itu dari ukuran, jadi ukuran brikes slupnya itu tebal 15 lebarnya 20 centimeter.

“Nah, kami kurang satu senti ukurannya. Tapi kami mau perbaiki. Walau pun begitu, kami mengakui dan kami siap untuk memperbaikinya, namun tetap tidak bisa melanjutkan pekerjaan,”katanya.

Kembali lagi persoalan pemberhentian, kata H. Roup, jelas pihaknya mengaku heran dan bertanya- tanya, karena, kata ia, ia bekerja berdasarkan SPK yang menguatkannya dalam bekerja.

“Namun, kami di berhentikan secara sepihak tanpa prosedural, ini yang kami sangat menyayangkan dari pihak PT. Moderen ataupun PT. Lubuk, pemberhentiannya itu hanya dengan lisan saja tidak melalui surat resmi,”katanya.

Untuk Speknya itu, ungkap H. Roup, untuk besi atas ukuran 12 dan untuk cin – cinnya itu adalah besi 8.

“Kekeliruan kami itu hanya besi itu di tonjolin 2, harusnya 4, itu saja,” katanya.

Lanjut H. Roup, dirinya meminta, siapapun yang mengerjakannya atau melanjutkan pekerjaannya tersebut, ia meminta agar pemberhentian itu dilakukan secara prosedur. Karena, SPK tersebut adalah SPK sebelumya itu kepada dirinya.

“Karena bagaimanapun, nanti misalnya ada temuan, atau apapun itu, karena itu SPK saya, SPK atas nama perusahaan saya, jadi kami minta surat resmi yang sesuai dengan prosedur, jangan secara lisan begitu saja, karena pada tanggal 27 saya sudah berhenti tidak melanjutkan proyek itu, karena disuruh berhenti oleh PT. Moderen. Dan yang saat ini mengerjakan saya juga tidak tahu, “katanya.

Ketika ditanya kembali, menanyakan atas nama Tono yang mengklaim sebagai koordinator proyek tersebut, H. Roup mengaku tidak mengenal siapa nama Tono tersebut.

“Waduh saya gak hapal itu dan gak tau sama sekali,”tegasnya.

Hingga berita ini di terbitkan, awak media masih berupaya konfirmasi pada pihak -pihak terkait.

(*AR/ RED)

banner 325x300
Ikuti kami di Google News