60 Tahun, Sudah Waktunya Reformasi Pramuka Perguruan Tinggi

Avatar of Redaksi
60 Tahun, Sudah Waktunya Reformasi Pramuka Perguruan Tinggi I Harian Terbit

HARIANTERBIT.ID JAKARTA – Berusahalah sehebat-sehebatnya untuk mengembangkan dan meluaskan Gerakan kita. Sampai pada suatu ketika setiap Anak dan Pemuda serta Pemudi Kita, baik Mahasiswa yang ada di kota manapun yang mengembala kerbau di desa dengan rasa bangga dan hormat dapat menyatakan Aku Pramuka Indonesia…” Pesan Presiden Soekarno saat menyerahkan Panji Gerakan Pramuka pada tanggal 14 Agustus 1961

Jika kita membaca pesan tersebut, maka sangat terasa betapa besar harapan Bapak Proklamator Ir. Soekarno terhadap Gerakan Pramuka untuk melibatkan sebanyak-banyaknya para pemuda dan mahasiswa agar mau bergabung didalam kegiatan Pramuka. Keinginan tersebut bukanlah tanpa alasan, mengingat perubahan di negeri ini selalu melibatkan peran para pemuda dan kaum terpelajar. Jika semakin banyak pemuda dan mahasiswa yang ikut didalam kegiatan Pramuka, maka semakin besar kemungkinan Gerakan Pramuka banyak melahirkan pemimpin nasional. Pada akhirnya, Indonesia dapat melangkah lebih jauh bersama para pemimpin yang memiliki jiwa Satya dan Darma Pramuka.

Sepertinya Gerakan Pramuka harus berbenah diri, mengingat tantangan kedepan semakin berat yang harus dihadapi. Jika tidak melakukan perubahan dari sekarang, maka siap-siap tereliminasi dari dunia kepemudaan dan kemahasiswaan. Belum lagi anggapan miring masyarakat terhadap Pramuka sebagai kegiatan anak-anak dan tidak sedikit yang mengatakan bahwa Pramuka adalah kegiatan organisasi “jadul” yang membosankan.

Hal inilah yang harus disikapi dengan bijak oleh para aktifis Pramuka, mengingat masyarakat adalah cerminan dari apa yang selama ini kita lakukan. Jangankan untuk menarik minat pemuda dan mahasiswa, bahkan sering kita jumpai, banyak pelajar yang mengeluh dengan diwajibkannya Pramuka dan tidak sedikit dari mereka yang kabur saat jam pelajaran Pramuka.

Padahal, Pramuka adalah kegiatan yang sangat baik bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga remaja dan dewasa. Terlebih lagi dizaman modern ini, zaman dimana banyak para pemuda kehilangan arah dan tujuan hidup, maka disitulah Pramuka hadir sebagai penyelamat pergaulan anak muda. Selain itu, kondisi bangsa yang sedang dilanda krisis moral dan kepercayaan, akibat ulah koruptor dan para pelaku politik identitas, mendorong kehadiran Pramuka untuk menjadi perekat persatuan. Namun jika banyak pemuda dan mahasiswa yang berpaling, maka sampai kapanpun Pramuka hanya akan menjadi kegiatan seremonial yang sangat mudah dijadikan tunggangan politik atau bisa juga dijadikan lahan empuk untuk menyemai ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan jatidiri bangsa.

Selain itu, minimnya minat pemuda dan mahasiswa untuk bergabung didalam kegiatan Pramuka, telah berimbas pada minimnya Pembina Pramuka yang harusnya menjadi ujung tombak kegiatan di Gugus Depan. Terlebih lagi kegiatan Pramuka saat ini telah diwajibkan diseluruh sekolah. Permasalahan bukan hanya soal minimnya jumlah pembina, bahkan Pramuka yang seharusnya menjadi mesin pencetak pemimpin bangsa, justru tak bisa memimpin organisasinya sendiri. Hal itu terlihat dimana mereka selalu menjadi penonton bagi birokrasi dan politisi yang saling berebut kursi pimpinan Pramuka baik ditingkat Nasional maupun daerah.

Kita tahu, bahwa di Pramuka terdapat sekelompok anak muda yang direkrut sebagai Dewan Kerja dan salah satu fungsinya adalah untuk mengelola kegiatan yang berkaitan dengan anak muda. Namun hingga kini, sepak terjangnya masih jauh dari apa yang diharapkan.

Dewan Kerja seperti dijadikan boneka yang hanya digunakan saat dibutuhkan, terutama untuk melaksanakan kegiatan seremonial belaka. Ini sama saja dengan prilaku mencetak generasi muda menjadi pekerja bukan mencetak pemimpin bangsa yang berjiwa Pramuka. Alhasil, kedepan mereka berbondong-bondong mencari lamaran pekerjaan untuk menjadi pekerja diberbagai perusahaan. Akibatnya, banyak anggota Pramuka yang harusnya berguna bagi masyarakat luas, pada akhirnya hanya berguna untuk membesarkan perusahaan swasta.

Memang tidak salah menjadi pekerja di manapun, namun berbeda dengan organisasi pemuda lain yang selalu berfikir bagaimana caranya menjadi pemimpin di daerahnya masing-masing, paling tidak aktif didalam menentukan arah bangsa. Akan lebih baik jika anggota Pramuka memiliki progresifitas untuk terjun kemasyarakat dengan mengkolaborasikan ilmu Kepramukaan yang pernah didapatkannya.

Kalaupun ada pemimpin daerah yang berasal dari Pramuka, jumlahnya masih sangat jauh dari harapan untuk organisasi yang selama ini telah banyak berkontribusi didalam membangun bangsa.

Mewujudkan Gerakan Pramuka sebagai kegiatan yang diprioritaskan bagi para pemuda dan Mahasiswa, memang bukan perkara mudah, namun demikian harus ada upaya dari berbagai aset yang dimiliki, salah satunya adalah dengan memunculkan peran Pramuka Perguruan tinggi untuk mempelajari dan mengevaluasi persoalan ini, mengingat kampus telah teruji menjadi tempat pemikir akademis yang selama ini dijadikan agen perubahan diberbagai bidang. Tapi sangat disayangkan jika peran Pramuka Perguruan Tinggi selama ini justru tak terlihat. Itulah sebabnya, perubahan Pramuka menuju era milenial, harus dimulai dari reformasi Pramuka Perguruan tinggi.

Dewan Kerja tidak bisa dipaksakan untuk masuk ke dalam mekanisme kegiatan di Perguruan Tinggi, meski sebagian dari mereka berasal dari universitas. Karena secara organisasi, kemampuan mereka untuk mengkaji secara akademis, patut dipertanyakan, terlebih lagi untuk pengembangan kegiatan didalam dunia kampus.

Yang ada justru rentan menciptakan konflik antara Pramuka Perguruan Tinggi dan Dewan Kerja. Memang tidak sepenuhnya hal ini menjadi kesalahan Dewan Kerja, namun sistem yang diterapkan selama ini seolah menjadikan mereka hanya sebagai kepanjangan tangan pengurus Kwartir. Padahal keinginan Kwartir yang didominasi oleh orang tua, belum tentu selaras dengan keinginan anak muda, terlebih lagi bagi mahasiswa yang memiliki analisa sendiri tentang regulasi dan kondisi kegiatan di kampus.

Untuk itu, Pramuka Perguruan Tinggi harus berani melakukan reformasi organisasi, jika perlu melepas dari regulasi dan tradisi yang selama ini mungkin hanya menjadi penghambat gerakan. Misalnya bisa dengan meninjau ulang keberadaan penggolongan Ambalan dan Racana yang tidak menutup kemungkinan banyak dipermasalahkan ditingkatan internal atau tentang penerapan SKU/TKU yang sudah tidak relevan bagi kalangan mahasiswa .

Yang pasti, apapun yang menjadi penyebab minimnya minat pemuda dan mahasiswa didalam mengkuti kegiatan Pramuka, atau hal-hal yang mengikat kebebasan berekspresi harus ditinjau ulang, apalagi kebanyakan dari mahasiswa lebih menginginkan pada kegiatan nyata dan fleksibel yang tidak penuh dengan unsur “Njelimet dan riweh”.

Selain itu sudah waktunya Pramuka Perguruan Tinggi mengurangi kegiatan yang sifatnya hanya seremonial, untuk selanjutnya beralih melaksanakan kegiatan inovatif yang berorientasi pada kajian akademis sesuai dengan bidang perkuliahan masing-masing tanpa harus menghilangkan prinsip dasar dan metode Kepramukaan.

Jika Pramuka Perguruan Tinggi dapat menjadi tempat persemaian bibit para pembina, maka akan lebih mudah untuk mensosialisasikan kegiatan perkuliahan bagi pelajar melalui kegiatan Pramuka. Dengan begitu akan terwujud implementasi dari Tribina Pandega dan Tridharma perguruan tinggi.

Dirgahayu Gerakan Pramuka ke 60
Jayalah Pramuka Jayalah Indonesiaku.